Membaca Merangsang Terjadinya Lompatan Kecerdasan

Pada tahun 1984 telah lahir seorang anak bernama Jennifer dari rahim seorang ibu bernama Marchia Thomas. Ketika para ibu umumnya menyambut bayinya dengan penuh rasa bahagia dan suka cita Marcia Thomas justru sebaliknya. Ada kecemasan ketika memandang anaknya. Jennifer tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan lazimnya para bayi. Responnya lambat dan ekspresinya tampak lain.

Kelak kekhawatiran Marcia Thomas terjawab. Berdasarkan hasil pemeriksaan para ahli, Jennifer dinyatakan positif menderita down-syndrome-suatu jenis keterbelakangan mental yang ditandai oleh rendahnya IQ sehingga tidak memungkinkan seseorang hidup secara wajar. Tidak itu saja, pada usia dua bulan Jennifer hampir-hampir mengalami kebutaan, tuli, dan keterbelakangan mental yang parah. Di usia yang masih sangat belia pula, Jennifer harus menjalani bedah korektif karena mengalami gangguan jantung.

Sebuah musibah yang lengkap!

Tetapi apa yang dilakukan oleh Marcia Thomas? Terapi. Marcia memberikan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan yang sangat kaya, sehingga kecerdasannya meningkat dan fungsi-fungsi indranya bekerja lebih aktif. Marcia berusaha menjalankan proses terapi itu dengan sungguh-sungguh agar anaknya tidak mengalami keterbelakangan mental.

Caranya ? DIET MEMBACA! Marcia membacakan SEBELAS buku setiap hari kepada buah hatinya yang masih bayi. Hasilnya? IQ Jennifer melonjak tajam ketika dites pada usia 4 tahun. IQ-nya seratus sebelas. Ya, 111! Salah satu penjelasan mengapa mengajarkan membaca pada bayi dapat melejitkan IQ adalah karena membaca merupakan kegiatan yang memberi rangsangan paling kompleks bagi otak dibandingkan beberapa kegiatan lainnya, melihat televisi misalnya.

Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, begitu Paul C. Burns, Betty D Roe dan Elinor P Ross menulis dalam Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Kedelapan aspek itu meliputi sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. semuanya bekerja secara berbarengan saat kita membaca. Apabila ini terjadi pada bayi, otaknya akan berkembang secara lebih pesat karena memperoleh rangsangan yang kaya. Maka, sangatlah beralasan jika Amerika menjadikan pembelajaran membaca sejak dini sebagai strategi membangun sumber daya insani berkualitas tinggi sejak bayi. Ketika mencanangkan kebijakan “NO Child Left Behind” (Tak Ada Satu Anak Pun yang Tertinggal Prestasinya di Belakang), pemerintah Amerika menyodorkan pembelajaran membaca sejak bayi sebagai program utama.

Bagaimanakah dengan kita?

Sumber : Positive Parenting karya Mohammad Fauzil Adhil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s